Iklan
SCROLL TO CONTINUE
Mode Gelap
Breaking News Memuat berita...
Iklan

Mahkota Merah dari Hutan Babel: Kulat Pelawan, "Truffle Indonesia" yang Kian Langka dan Berharga

Tanjung Pandan, Penababel.web.id — Di tengah lebatnya hutan Bangka Belitung, tersimpan salah satu kekayaan kuliner paling eksklusif di Nusantara. Dikenal dengan nama Kulat Pelawan (Jamur Pelawan), bahan pangan endemik ini kerap dijuluki sebagai *"Truffle Indonesia"*. Julukan tersebut bukan tanpa alasan: kelezatannya yang luar biasa dipadukan dengan tingkat kelangkaan yang tinggi menjadikannya sebagai buruan kuliner kelas atas.

Kulat Pelawan tidak tumbuh di sembarang tempat. Jamur ini hidup secara mikoriza atau bersimbiosis saling menguntungkan dengan akar pohon Pelawan (*Tristaniopsis merguensis*), khususnya pohon yang sudah berusia di atas 20 tahun. Pohon memberi suplai gula, sementara jamur membantu penyerapan nutrisi.

Uniknya, jamur ini hanya muncul di awal musim hujan (sekitar Oktober hingga Desember) tepat setelah hujan pertama dan dentuman petir. Tumbuh berselimut tanah di kedalaman 5–20 cm, para pemburu jamur harus mengandalkan keahlian khusus (*ilmu titen*) untuk mendeteksi retakan tanah tempat jamur bersembunyi.

Upaya membudidayakan Kulat Pelawan secara massal hingga kini belum berhasil. Mikroba spesifik di tanah Bangka Belitung dan keterikatannya pada pohon Pelawan membuat jamur ini menolak tumbuh di lokasi lain.

* Warna & Bentuk: Berbentuk bulat dengan diameter 3–7 cm. Saat muda berwarna merah muda kemerahan, dan berubah menjadi merah bata hingga cokelat kemerahan saat dewasa.

* Mahkota Khusus: Ciri utamanya adalah sisik atau mahkota berwarna merah menyala di bagian atas.

* Tekstur & Aroma: Dagingnya padat, kenyal, dan berwarna putih kekuningan. Aromanya sangat kuat dan gurih, menyerupai perpaduan kaldu daging dan kacang.

Di meja makan, jamur ini memberikan sensasi *umami* tingkat tinggi yang kerap disandingkan dengan cita rasa jamur Matsutake khas Jepang dan daging ayam kampung. Teksturnya yang kokoh membuat Kulat Pelawan tidak mudah hancur meski dimasak dalam waktu lama.

Selain kelezatannya, masyarakat lokal mempercayai kandungan protein, serat, dan antioksidannya bermanfaat untuk menjaga imunitas serta stamina tubuh.

Masyarakat Bangka Belitung mengolah harta karun ini dengan bumbu yang bersahaja agar aroma alami jamur tetap mendominasi. Beberapa olahan paling ikonik antara lain:

1. Lempah Kulat Pelawan: Hidangan paling populer berkuah asam pedas khas Belitung dengan paduan nanas, kunyit, dan serai.

2. Gulai Kulat Pelawan Ayam: Perpaduan kuah rempah kuning kental dengan daging ayam kampung yang meresap sempurna.

3. Kreasi Modern: Kombinasi dengan seafood lokal seperti gonggong, hingga olahan tumis lada hitam dan rica-rica di berbagai restoran.

"Kulat Pelawan ini bukan sekadar jamur biasa buat kami. Rasanya itu khas banget, gurihnya alami kayak daging hutan, dan teksturnya tetap kenyal walau dimasak lama dalam kuah lempah. Karena dapatnya susah dan cuma ada di musim tertentu, bisa menyajikan hidangan Kulat Pelawan di rumah itu rasanya kayak menyajikan sajian istimewa yang sangat berharga," ujar Anggi, salah satu warga Tanjungpandan, Belitung.(22/07/26). 

Keberadaan Kulat Pelawan kini kian terancam. Dalam satu musim, satu pohon Pelawan rata-rata hanya menghasilkan 0 hingga 3 buah jamur. Ketergantungan mutlak pada ekosistem hutan asli membuat populasinya rentan menyusut akibat alih fungsi lahan dan aktivitas penambangan timah.

Meskipun dijual dengan harga tinggi yang bervariasi tergantung ukuran serta kesegarannya, permintaan terhadap jamur ini tidak pernah surut. Saat ini, Kulat Pelawan segar maupun versi beku (*frozen*) menjadi salah satu oleh-oleh eksklusif dan menu wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Belitung.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan