Oleh: Belva Al Akhab dan Tim
YOGYAKARTA - Pagi di kota ini tidak selalu dimulai dengan matahari. Bagi sebagian orang, pagi adalah alarm, kopi, dan rutinitas yang berulang. Namun bagi Zizi Alqoorni, pagi adalah medan tempur ruang di mana hidup diuji kembali, setiap hari, tanpa jeda.
Ketika langit masih menggantungkan gelapnya dan jalanan belum sepenuhnya diisi suara kendaraan, ia sudah berdiri di depan rak sayur. Tangannya bekerja seperti mesin yang terlatih oleh waktu. Matanya membaca pesanan yang masuk dengan ketepatan yang tidak lagi membutuhkan jeda berpikir. Telepon genggamnya bergetar tanpa henti menandakan satu hal bahwa sistem yang dulu ia bangun dalam kesunyian, kini hidup.
Namun di balik ritme yang nyaris mekanis itu, ada sesuatu yang tetap ia jaga. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tetapi menggerakkan semuanya dalam niat.
“Dulu saya cuma punya satu pikiran. Bagaimana usaha ini bisa jalan bukan untuk saya, tapi supaya saya bisa membahagiakan ibu.” katanya, suaranya tenang namun berat oleh perjalanan panjang.
Kalimat itu tidak sekadar pengakuan. Ia adalah fondasi. Ia adalah arah. Ia adalah alasan mengapa seorang anak desa berani melawan batas yang ditetapkan untuknya sejak lahir.
Zizi lahir di Desa Kundi, Bangka Belitung. Sebuah tempat yang, dalam banyak narasi pembangunan, jarang disebut. Ia bukan pusat ekonomi. Ia bukan pusat pendidikan. Ia adalah pinggiran dalam ruang yang sering kali hanya menjadi catatan kaki.
Di tempat seperti itu, mimpi tidak tumbuh bebas. Ia harus bernegosiasi dengan realitas bahwa keterbatasan akses, keterbatasan informasi, keterbatasan pilihan.
Namun Zizi tidak menunggu keadaan berubah ia memilih keluar.
Tahun 2019, ia merantau ke Yogyakarta. Tidak membawa kekuatan besar, tidak membawa jaminan. Ia hanya membawa satu hal yang sering diremehkan dalam keberanian untuk mencoba.
Di bangku kuliah S1 Ekonomi Islam, ia menjalani hidup yang jauh dari kata mudah. Ia bukan mahasiswa yang hanya belajar di kelas. Ia belajar dari hidup itu sendiri tentang bertahan, tentang mengelola keterbatasan, tentang menahan keinginan.
Ia hidup dengan perhitungan. Ia mengukur hari dengan kebutuhan. Ia menguatkan diri dalam diam.
Hingga akhirnya, pada 2023, ia lulus dengan predikat cumlaude. Sebuah pencapaian yang bagi banyak orang adalah garis akhir. Tapi bagi Zizi, itu hanyalah garis start.
“Waktu itu saya pikir sudah selesai. Ternyata hidup baru mulai.” katanya.
Oktober 2023.
Tidak ada pesta. Tidak ada ucapan selamat yang berlebihan. Tidak ada pintu besar yang terbuka yang ada hanya Rp 2 juta di tangan hasil dari lomba penelitian. Satu keputusan besar untuk memulai usaha. Ia membuka warung sayur.
Pilihan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, bahkan rendah. Namun di tangan Zizi, ini bukan sekadar usaha. Ini adalah perlawanan terhadap keadaan.
Ia memulai dari nol. Secara harfiah.
Dari kayu sederhana, ia bangun rak.
Dari hubungan terbatas, ia cari supplier.
Dari ruang kecil, ia bangun pasar.
Ia bekerja tanpa sistem, karena ia sendiri adalah sistem itu.
“Semua saya lakukan sendiri. Dari chat supplier, nyusun barang, jaga toko, sampai delivery 24 jam,” katanya.
Waktu tidak lagi menjadi ukuran. Siang dan malam melebur menjadi satu.
“Kadang saya tidur cuma dua jam. Kadang nggak tidur sama sekali,” tambahnya.
Fase ini tidak terlihat. Tidak ada yang mengabadikan. Tidak ada yang memuji. Tapi justru di situlah karakter dibentuk.
Ketika Hampir Runtuh, Ada Yang Tetap Berdiri, Setiap perjalanan besar hampir selalu memiliki satu titik di mana seseorang bisa memilih berhenti.
Zizi juga sampai di titik itu. Namun, di saat paling rapuh, ia tidak benar-benar sendiri. Ada satu sosok yang ia sebut sederhana bernama bunga Jogja.
Seorang perempuan yang tidak datang saat ia sukses, tetapi tetap tinggal saat ia hampir menyerah.
“Setiap pagi dia datang bawa sarapan. Kadang saya belum makan, dia sudah datang duluan,” katanya.
Ia membantu menjaga toko. Ia ikut berpikir. Ia bahkan ikut mengantar pesanan di tengah kesibukan kuliahnya sendiri.
“Orang lihat saya sekarang. Tapi mereka nggak lihat dia di belakang saya,” kata Zizi pelan.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan:
“Padahal kalau dia nggak ada mungkin saya sudah berhenti,” tambahnya.
Dalam diam, perempuan itu menjadi fondasi yang tidak terlihat tetapi menentukan.
Ketika usaha mulai bergerak, Zizi mencoba mempercepat pertumbuhan.
Ia mendirikan PT.
Ia meluncurkan aplikasi.
Ia membuka cabang.
Dalam waktu singkat, ia mencoba melompat lebih jauh dan ia jatuh. Semua langkah itu gagal.
“Jujur, itu titik paling berat. Saya pikir saya sudah benar. Ternyata belum,” katanya.
Kegagalan datang bukan hanya sebagai angka kerugian. Ia datang sebagai rasa sebagai beban mental yang tidak mudah diukur.
Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak berubah yaitu tujuan.
“Saya ingat ibu saya. Saya belum bikin beliau bahagia,” katanya.
Kalimat itu menjadi alasan untuk tidak berhenti. Alih-alih mencari jalan pintas, Zizi memilih kembali ke dasar.
Ia pergi ke Magelang, Ke Garut, Ke desa-desa pertanian. Ia duduk bersama petani, Mendengar cerita mereka. Memahami alur distribusi yang selama ini ia abaikan.
“Saya sadar saya ini nggak tahu apa-apa. Jadi saya belajar dari mereka,” katanya.
Di situlah ia menemukan sesuatu yang penting bahwa bisnis bukan hanya soal menjual, tetapi soal memahami sistem.
Ia membangun ulang usahanya.
Lebih sederhana. Lebih kuat. Lebih jujur.
Perubahan itu tidak datang dengan suara keras. Ia datang pelan, hampir tidak terasa.
Pesanan mulai meningkat.
Jaringan mulai terbentuk.
Kepercayaan mulai tumbuh.
Restoran, hotel, catering semua mulai datang.
“Dari yang dulu nunggu pembeli. Sekarang kami yang kewalahan,” katanya.
Omset menembus angka tiga digit per bulan.
Ia membeli mobil operasional. Tanpa utang.
Namun bagi Zizi, semua itu bukan puncak.
Puncak itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana.
Ia berdiri di depan ibunya.
“Bu, kita umroh ya,” katanya.
Ibunya diam, lalu menangis.
Di situlah semua perjuangan menemukan maknanya.
“Rasanya kosong tapi penuh. Kayak selesai satu janji hidup.” kata Zizi.
Agustus 2025, ia menunaikan itu.
Seorang anak desa membawa ibunya ke Tanah Suci.
“Semua ini karena doa ibu. Saya cuma jalan yang bukakan jalan itu Allah.” katanya lirih.
Pada 5 April 2026, perjalanan itu mencapai fase baru.
Ia menikahi perempuan yang selama ini menemaninya. Bukan sekadar pasangan. Tetapi saksi dari seluruh proses.
“Mahar saya sederhana. Seperangkat alat sholat, emas 50 gram dan 1000 riyal dari hasil jualan sayur,” katanya.
Di balik kesederhanaan itu, ada makna yang tidak bisa dibeli bahwa setiap nilai yang ia berikan adalah hasil dari perjuangan.
“Dia ada dari nol. Jadi saya nggak pernah ragu,” katanya pelan.
Hari ini, Zizi memimpin tim. Melanjutkan S2. Mengembangkan usahanya.
Namun lebih dari itu, ia telah menjadi simbol.
Simbol bahwa:
Anak desa bisa menembus batas
Keterbatasan bukan akhir
Kegagalan adalah bagian dari proses
Doa ibu adalah kekuatan paling nyata
“Kalau ditanya rahasia. Saya cuma nggak berhenti dan saya nggak lupa kenapa saya mulai,” katanya.
Di negeri yang sering lupa melihat pinggiran, kisah seperti ini bukan sekadar cerita.
Ia adalah peringatan.
Bahwa di antara rak sayur, di antara malam tanpa tidur, di antara doa yang tidak terdengar ada seseorang yang sedang menulis ulang takdirnya dan kini Zizi Alqoorni tidak lagi sekadar bertahan hidup.
Ia telah berdiri di atas hidupnya sendiri dan menang.

