Iklan
SCROLL TO CONTINUE
Mode Gelap
Breaking News Memuat berita...
Iklan

Nelayan dan Ibu-Ibu Tempilang Berharap Sidak Kecamatan Tak Hanya Sebatas Pencitraan Semata Namun Harus Berkelanjutan

Penulis: Belva Al Akhab, ST dan Reza Erdiansyah, SH

Tempilang, Penababel.web.id — Dukungan terbuka dari nelayan dan ibu-ibu pesisir menguatkan langkah tegas Camat Tempilang, Rusian, dalam sidak aktivitas tambang ilegal di kawasan wisata Pantai Pasir Kuning, Jumat (10/04/2026). Bagi masyarakat, kegiatan sidak tersebut diharapkan bukan sekadar kegiatan seremonial semata seakan pencitraan. 

Sejumlah ibu-ibu pesisir terlihat turun langsung membersihkan sampah di sepanjang Pantai Pasir Kuning. Aksi ini menjadi simbol keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus bentuk dukungan nyata terhadap langkah pemerintah setelah viralnya di pemberitaan. 

Siti Aminah (45), salah satu warga, mengatakan bahwa aksi bersih pantai ini lahir dari kesadaran bersama.

“Kami mungkin tidak bisa menghentikan tambang, tapi kami tidak mau diam melihat pantai ini rusak begitu saja,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa perubahan kondisi pantai sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama para ibu yang sehari-hari beraktivitas di sekitar pesisir.

“Dulu pasirnya bersih. Sekarang banyak sisa minyak, plastik, dan lumpur. Anak-anak kami main di sini. Kami sebagai ibu merasa tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Apalagi ponton selam ilegal kian banyak ikut merambah laut kami,” ujarnya.

Lina (32), ibu muda lainnya, menyampaikan kekhawatiran terhadap masa depan generasi berikutnya.

“Kami takut ini jadi warisan yang buruk untuk anak-anak kami. Mereka harusnya kenal laut yang jernih, bukan yang kotor seperti sekarang,” katanya.

Sementara itu, Nurhayati (50) menilai bahwa kerusakan yang terjadi merupakan akibat dari pembiaran yang berlangsung lama.

“Kerusakan ini bukan datang tiba-tiba. Ini dibiarkan. Kalau dari dulu dijaga, mungkin tidak separah ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat siap berkontribusi, namun berharap pemerintah juga konsisten dalam menghentikan aktivitas tambang ilegal oleh pelaku usaha ponton selam yang merusak ekosistem. 

“Kami mulai dari hal kecil, dari memungut sampah. Tapi kami berharap yang besar juga melakukan bagiannya menghentikan yang merusak. Mereka pelaku ponton selam ilegal dapat uang, kesenjangan dan kemewahan sedangkan kami hanya jadi pembantu dan penonton di wilayah sendiri,” katanya.

Pantai Pasir Kuning, yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata dan ruang sosial masyarakat Tempilang, kini berada dalam tekanan akibat aktivitas tambang ilegal ponton selam yang mendekati garis pantai. Selain merusak estetika kawasan, aktivitas ini juga mengancam ekosistem laut dan keberlanjutan mata pencaharian nelayan.

Sidak yang dilakukan oleh Camat Tempilang menjadi titik awal penting dalam upaya penataan kawasan. Namun, masyarakat berharap langkah ini tidak berhenti pada peringatan semata, tak hanya sidak yang hanya terkesan pencitraan melainkan berlanjut pada tindakan tegas dan berkelanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, suara nelayan  pun terdengar sama. Mereka nelayan meminta agar aktivitas ilegal ponton selam segera dihentikan karena telah merugikan perekonomian nelayan. 

"Ini negeri kami dan mereka pendatang namun kenapa mereka dibiarkan mengambil timah dari laut kami. Kami jadi pembantu dan penonton dinegeri sendiri. Mereka pelaku tambang ilegal dapat keuntungan sedangkan kami bukan ikan yang didapat atau kompensasi namun hanya disisakan tumpukan sampah dan sisa pembuangan minyak laut semata," seruan beberapa nelayan yang meminta pemerintah setempat ambil sikap tegas jangan hanya sesaat.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan