Bangka, Penababel.web.id - Senin 18/5/2026 Penjarahan Alam besar besaran oleh Ratusan ponton Isap produksi (PIP) dan puluhan ponton Sebu di Muara Jeliti, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Menjadikan "Ajang Perjinahan" antara PT Timah Tbk, CV binaan /mitra PT Timah bahkan ada Oknum yang nimbrung mengail di air keruh dalam pusaran "Konspirasi Bejat".
Aktivitas pertambangan timah menggunakan Ponton Isap Produksi (PIP) yang sudah membentuk pulau ponton di ujung muara tersebut kini memicu reaksi keras dari masyarakat dan nelayan setempat.
Berdasarkan temuan Penababel.web.id Bangka pada Senin (18/5), ditemukan fakta lapangan yang mengejutkan. Bertopeng pengerukan untuk mengatasi pendangkalan alur pelayaran, aktivitas sekitar Ratusan unit ponton di lokasi tersebut diduga kuat aktivitas tambang yang menguntungkan sebagain Pihak yang tergabung dalam lingkaran KONSPIRASI BEJAT tersebut bahkan PERJINAHAN yang dibalut oleh Mitra PT Timah Tbk dan CV Binaan .
Hal ini dianggap kontraproduktif dengan dalih pengerukan alur dan pendalaman muara disini Amat sangat nampak pembodohan publik yang dilakukan oleh para pelaku perjinahan aturan, Antara Maling, Tuan Rumah dan Penegak Hukum Saling BERSETUBUH untuk hasilkan keuntungan yang berlimpah tanpa adanya KECURIGAAN PUBLIK.
"Kami heran menurut informasi yang berkembang ponton -ponton itu untuk pengerukan alur keluar masuk kapal nelayan, tapi yang diambil hanya timahnya, pasir sisanya tetaplah mengendap disitu. Jadi kapan dalamnya? Nelayan justru makin susah lewat," ujar salah satu warga nelayan yang enggan disebutkan namanya.
Informasi yang dihimpun dari para pemilik ponton mengungkap adanya kewajiban menyetor uang sebesar Rp. 500.000 per unit setiap minggunya kepada oknum pengawas tambang (Wastam). Jika dikalkulasikan dengan total 200 ponton yang beroperasi, maka terdapat aliran dana sekitar Rp. 100 juta per minggu yang dipungut dari lokasi tersebut.
Kabar yang beredar menyebutkan uang tersebut dialokasikan untuk biaya penggalian alur. Namun, hingga kini nelayan mengaku belum merasakan dampak positif atau pendalaman alur yang signifikan.
Di lokasi, penababel juga memantau adanya dugaan keterlibatan oknum Satgas Trisakti yang terkesan memiliki kuasa besar dalam mengatur aktivitas di lapangan. Kehadiran oknum tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi masyarakat,, apakah mereka bertugas mengamankan kebijakan atau justru melindungi aktivitas yang diduga ilegal?
Banyak dari ponton yang beroperasi disinyalir tidak memiliki izin resmi alias berada di zona "abu-abu". Meskipun ada beberapa yang mengantongi izin, namun praktik di lapangan tampak membabi buta tanpa pengawasan lingkungan yang jelas.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada salah satu Wastam Laut berinisial W. Saat ditanya melalui pesan singkat WhatsApp terkait kebenaran setoran Rp. 500 ribu per minggu dan efektivitas pengerukan muara, yang bersangkutan memilih bungkam. Hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban resmi dari pihak terkait.
Masyarakat kini mendesak pihak berwenang dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan memeriksa legalitas aktivitas di Muara Jeliti serta menelusuri ke mana larinya uang ratusan juta rupiah yang dipungut dari para penambang setiap minggunya.
Penababel web.id terus terbuka untuk selalu memberikan hak jawab terkait pemberitaan tersebut. ( R.Christ . S.pd. S.H/Red).
