Iklan
SCROLL TO CONTINUE
Mode Gelap
Breaking News Memuat berita...
Iklan

Badrun Karyawan PT FPI di Temukan Kurang Dari 1×24 jam, Sertifikasi K3 PT FPI di Pertanyakan

Penulis: Belva Al Akhab, Reza Erdiansyah, SH, dan Satrio 

Tanjung Niur, Penababel.web.id - Duka dan kecemasan yang menyelimuti perairan Tanjung Niur akhirnya sedikit terobati. Setelah dilakukan pencarian tanpa henti sepanjang malam, Badrun Supriadi (43), pekerja asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang dilaporkan hilang terseret arus laut, akhirnya berhasil ditemukan pada Senin subuh (18/05/2026).

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tim gabungan yang terdiri dari nelayan, warga pesisir, personel Polsek Tempilang, serta pihak PT FPI melakukan pencarian intensif sejak Minggu sore hingga dini hari.

Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa menuju Puskesmas Tempilang sekitar pukul 07.00 WIB untuk penanganan lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

Keberhasilan menemukan korban dalam waktu kurang dari 1x24 jam disebut tidak lepas dari kerja sama cepat berbagai pihak yang bergerak tanpa mengenal lelah di tengah kondisi laut yang cukup berbahaya.

Kerjasama Dalam Pencarian Mayat Korban Membuahkan Hasil

Sejak kemarin malam, sejumlah nelayan tradisional di Tanjung Niur turut mengerahkan perahu mereka untuk membantu penyisiran di sekitar lokasi korban diduga hanyut. Mereka memanfaatkan pengetahuan tentang arah arus laut dan perubahan pasang surut yang biasa terjadi di wilayah perairan Tempilang.

Di tengah gelap malam dan arus yang masih berubah-ubah, pencarian dilakukan secara bergantian. Lampu-lampu perahu nelayan tampak menyisir perairan, sementara warga di pesisir terus memantau perkembangan dengan penuh harap.

Suasana haru mulai terasa ketika tubuh korban akhirnya ditemukan saat waktu subuh mulai menyingsing. Beberapa warga yang ikut dalam pencarian mengaku lega karena korban akhirnya berhasil ditemukan sehingga keluarga tidak lagi berada dalam ketidakpastian.

Salah seorang warga menyebut solidaritas masyarakat malam itu muncul secara spontan karena mereka memahami bagaimana beratnya cobaan yang dialami keluarga korban.

“Semua ikut bergerak. Nelayan turun, warga membantu di pesisir, polisi berjaga, pihak perusahaan juga ikut mencari. Semua berharap korban cepat ditemukan,” ujar seorang warga di lokasi pencarian.

Pihak PT FPI juga dilaporkan ikut membantu proses pencarian dengan menurunkan tim lapangan serta berkoordinasi bersama aparat dan masyarakat setempat untuk mempercepat proses evakuasi.

Kerja sama lintas unsur tersebut dinilai menjadi faktor penting yang membuat korban dapat ditemukan dalam waktu relatif cepat meski kondisi laut cukup sulit dan arus masih kuat.

Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bahwa budaya gotong royong masyarakat pesisir Bangka Barat masih hidup dan menjadi kekuatan besar ketika musibah terjadi.

Namun di balik keberhasilan pencarian tersebut, tragedi ini tetap meninggalkan pesan mendalam tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama bagi pekerja yang beraktivitas di wilayah laut dan pesisir.

Kondisi cuaca, perubahan arus, penggunaan alat keselamatan, kesiapan prosedur darurat, hingga pengawasan kerja di lapangan menjadi hal yang tidak boleh dipandang sepele. Musibah di Tanjung Niur menjadi pengingat bahwa pekerjaan di laut selalu memiliki risiko tinggi yang membutuhkan kesiapan maksimal dari seluruh pihak.

Kini suasana duka menyelimuti keluarga korban. Setelah sempat hilang dalam ganasnya arus laut Tempilang, Badrun akhirnya berhasil dibawa pulang. Bukan lagi dalam pelukan harapan, melainkan dalam keheningan yang meninggalkan luka mendalam bagi orang-orang yang menunggunya di rumah.

Dengan adanya korban pekerja di Tambang Udang PT FPI, Publik khususnya masyarakat setempat mempertanyakan sertifikasi K3 apakah diterapkan pada setiap karyawan tambak udang di PT FPI mengingat izin mereka PT bukan CV. 


Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan