Penulis : Reza Erdiansyah, SH, Belfa Alkhab, ST dan Tim Investigasi
Tempilang, Penababel.web.id - Apa yang terjadi di Tempilang sebenarnya bukan cerita baru di Bangka Belitung. Telah berpuluh kali bahkan ratusan kali publikasi dilakukan oleh rekan media terkait pemberitaan mengenai keluh kesah nelayan terhadap para pelaku penyelundupan hasil timah dari DU 1545 IUP PT Timah Tbk Tempilang.
Publikasi dilakukan tetap saja tak membuat para pemilik wewenang setempat seperti Satgas besutan Prabowo, Satgas PT Timah Tempilang dan APH setempat mengambil langkah tegas atau menyusun rencana agar tak ada lagi penyelundupan hasil timah.
Bagi nelayan setempat : Nelayan Air Lintang dan Nelayan Benteng Kota merasa pertemuan berkali-kali, pencegahan dan penangkapan langsung oleh nelayan tak membuat para pelaku penyelundupan timah jera. Tak jeranya para pelaku penyelundupan karena belum ada terdengar kabar sampai ke telinga atau sampai ke media adanya para pelaku penyelundupan diproses secara hukum dengan uu yang berlaku di Indonesia.
"Percuma kami nelayan turut menangkap para penyelundup timah tapi tak pernah buat jera. Bahkan sekarang yang ada malah mereka melakukan penyelundupan timah pada siang hari dan terang-terangan," sebut nelayan 1 (nama disembunyikan) yang melihat orang bawa timah dari laut kedarat pada waktu siang secara terangan.
Nelayan 1 juga menyebutkan dengan adanya penyelundupan secara terangan tersebut otomatis kompensasi yang merupakan hak nelayan terkikis dan ia juga minta kepada Satgas Besutan Prabowo dan Satgas PT Timah Tempilang ambil sikap.
"Percuma ada Satgas Pak Prabowo yang digaji dan difasilitasi tapi dkde gawe apalah. Banyaknya Satgas dari PT Timah Tempilang cuma stay ramai-ramai di penimbangan bae sembari tawa tiwi tapi di titik lain timah dari laut masih pacak lost tuk dijual keluar dari penimbangan," sebut nelayan 1 dengan napas mengeluh.
"Belum ada terdengar kabar jika dari Satgas Besutan Prabowo dan Banyaknya Satgas dari PT Timah Tempilang yang ada di Tempilang menangkap mereka pelaku penyelundupan!! Apalagi sampai masuk penjara!! Padahal jelas ada tindak kriminal e menyelundupkan timah secara terangan tapi dkde ditangkap dan proses hukum," jawabnya penuh dengan tanda tanya.
Menurut nelayan 2 (nama disembunyikan) mengatakan jika nelayan memahami bahwa setiap produksi timah resmi dari kawasan tambang laut DU-1545 memiliki kaitan dengan kompensasi bagi masyarakat pesisir apabila laporan produksi masuk ke perusahaan PT Timah.
Karena itu, dugaan penyelundupan dianggap bukan hanya merugikan negara, tetapi juga memukul nelayan kecil.
“Kalau masuk resmi, nelayan masih ada kompensasi. Tapi kalau keluar diam-diam, kami cuma dapat laut keruh,” katanya.
Pantai Pasir Kuning kini seperti menyimpan dua wajah berbeda. Di darat, wisatawan datang menikmati senja dan kuliner laut. Di perairan lepas, warga mengaku sering melihat aktivitas keluar masuk perahu yang diduga mengangkut timah.
Beberapa warga menyebut aktivitas penyelundupan itu bahkan terlihat jelas saat pantai sedang ramai pengunjung.
“Mungkin karena ramai orang malah dianggap aman,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pulau penghasil timah itu sejak lama menghadapi persoalan tambang ilegal dan dugaan penyelundupan mineral.
Dalam penelitian Dwi Haryadi berjudul Faktor Kriminogen Illegal Mining Timah di Bangka Belitung, disebutkan Bangka Belitung menjadi wilayah rawan penyelundupan akibat lemahnya pengawasan, tingginya nilai ekonomi timah, dan lemahnya penegakan hukum.
Penelitian itu juga menyebut adanya “politik penguasaan timah” yang membuat praktik ilegal sulit diberantas.
Narasi itu terasa hidup di Tempilang.
Nelayan merasa hukum sering tajam kepada masyarakat kecil, tetapi kabur ketika berhadapan dengan rantai distribusi timah yang lebih besar.
Penelitian lain dari Universitas Gadjah Mada juga menyebut wilayah pesisir Bangka Belitung menjadi salah satu jalur rawan penyelundupan timah melalui pantai kecil dan pelabuhan tidak resmi.
Pantai Pasir Kuning kini seperti menjadi simbol ironi itu. Di satu sisi, kawasan wisata dipromosikan sebagai wajah indah pesisir Bangka Barat.
Di sisi lain, laut yang sama diduga menjadi jalur lalu lintas timah ilegal.

