Penababel.web.id - Sejarah sering kali mencatat nama-nama besar yang berdiri di atas panggung utama. Namun, di balik riuk rendah perjuangan dan deklarasi besar, ada sosok-sosok sunyi yang bekerja di balik layar—memastikan bahwa setiap momen berharga tak menguap ditelan waktu. Salah satu sosok tersebut adalah Ismadi, atau yang akrab disapa Pak Madi, seorang warga Dusun Samak, Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.
Pada masa 2000 hingga 2010, Pak Madi adalah salah satu pilar di Paguyuban Pemancar Relay Mini (PPRM). Dengan kamera di pundaknya, ia melangkah menyusuri setiap sudut dinamika masyarakat pada masa-masa krusial pembentukan Kabupaten Belitung Timur. Ia bukan sekadar menyaksikan, melainkan merekam detik demi detik perjuangan, peluh, dan aspirasi masyarakat yang mendambakan pemekaran wilayah.
Warisan Visual bagi Tanah Bunda:
Arsip dokumen dan film dokumenter karya Pak Madi kini telah menjadi aset tak ternilai. Rekaman-rekaman audiovisual hasil keringatnya telah diserahkan secara resmi kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kearsipan Belitung Timur sebagai memori kolektif daerah. Tanpa dedikasi dan inisiatifnya di masa lalu, catatan visual perjalanan berdirinya Beltim mungkin tak akan selengkap hari ini.
Atas jasa dan dedikasinya tersebut, Pak Madi sempat menerima plakat penghargaan pada masa pemerintahan Bupati Basuri Tjahaja Purnama. Penghargaan itu diserahkan melalui Burhanudin (Kang Aan), yang kala itu menjabat sebagai Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Belitung Timur.
Tersenyum dalam Kenangan, Tersisih dalam Senja:
Kini, di usianya yang telah menginjak 65 tahun, Pak Madi menikmati hari-hari tuanya dengan menyaksikan Belitung Timur yang tumbuh kian pesat dan modern. Ada rasa bangga dan tawa haru yang hadir setiap kali ia mengenang betapa sulit dan penuh tantangannya masa-masa perjuangan dahulu—kondisi prihatin yang kini telah bertransformasi menjadi kemajuan.
Namun, di balik senyum bahagia itu, terselip kepiluan yang tak mampu disembunyikan. Di masa senjanya, Pak Madi menyimpan rasa sedih; sebuah perasaan sunyi karena merasa jasa dan pengorbanannya perlahan mulai terlupakan oleh zaman yang terus bergerak cepat. Kamera yang dulu merekam sejarah kini tersimpan bisu, seiring namanya yang makin jarang disapa dalam narasi kemajuan daerah.
Kisah Pak Madi mengetuk pintu kesadaran kita semua. Kemajuan dan kenyamanan yang dirasakan oleh masyarakat Belitung Timur hari ini tidak berdiri di atas ruang hampa, melainkan dibangun di atas fondasi perjuangan masa lalu yang telah diabadikan dengan penuh pengorbanan.
Pertanyaan besar itu kini kembali kepada kita: *Apakah kita, sebagai penikmat hasil pemekaran dan kemajuan hari ini, masih mampu menghargai sejarah beserta para pelakunya?
Menghargai sejarah tidak cukup hanya dengan merawat dokumennya, tetapi juga dengan memuliakan dan mengingat para pejuang di balik layar yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Belitung Timur. Jangan biarkan para penjaga memori bangsa merasa terasing di tanah yang ikut mereka perjuangkan.
