Belitung, Penababel.web.id — Di balik ketenangan pekarangan rumah warga Dusun Aik Ruak, Desa Simpang Tiga, tersimpan potensi ekonomi bernilai tinggi yang kini siap dioptimalkan. Berbekal kearifan lokal dan naluri keilmuan turun-temurun, para perempuan pejuang keluarga yang tergabung dalam Kelompok UMKM Lampah Rasa mengikuti pelatihan pengolahan tanaman rempah berbasis kelestarian lingkungan.
Pelatihan ini memfokuskan pada pemanfaatan tanaman komoditas lokal seperti jahe, kunyit, dan sereh. Bahan-bahan yang semula hanya dikonsumsi untuk kebutuhan dapur harian tersebut kini disulap menjadi beragam produk bernilai tambah, mulai dari minuman herbal siap minum (*ready to drink*), rempah serbuk siap seduh, hingga olahan permen herbal (*candy rempah*).
Kegiatan penguatan kapasitas ini merupakan bagian dari implementasi Program Solusi, sebuah kolaborasi strategis antara Yayasan Kehati dan Tarsius Center Indonesia (TCI) yang berkomitmen mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan melalui pendekatan ramah lingkungan.
Di tempat terpisah, perjumpaan ini membuktikan bahwa penguatan ekonomi keluarga di Negeri Laskar Pelangi tidak harus berbenturan dengan aspek kelestarian alam. Pengembangan komoditas lokal berbasis komunitas justru menjadi kunci pembangunan yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap keberlanjutan usaha kelompok, Yayasan Tarsius Center Indonesia juga menyerahkan bantuan unit peralatan produksi standar. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Yayasan Tarsius Center Indonesia, Budi Setiawan, kepada Ketua Kelompok UMKM Lampah Rasa, dengan disaksikan langsung oleh Kepala Desa Simpang Tiga, Ibu Wasni.
"Perempuan adalah pilar utama dalam ketahanan ekonomi keluarga sekaligus garda terdepan penjaga kearifan lokal. Pelatihan dan bantuan sarana produksi ini bukan sekadar memberikan keterampilan teknis, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kemandirian UMKM berbasis potensi alam yang ramah lingkungan. Kita ingin membuktikan bahwa kesejahteraan masyarakat di Negeri Laskar Pelangi bisa ditingkatkan secara signifikan tanpa harus merusak ekosistem yang ada." Terang, Budi Setiawan Direktur Yayasan Tarsius Center Indonesia. (11/08/26).
Kepala Desa Simpang Tiga, Wasni, menyambut positif kolaborasi antarlembaga ini. Kehadiran peralatan produksi yang memadai diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas jangkauan pasar produk olahan Lampah Rasa.
Melalui sinergi antara keilmuan lokal, pendampingan kelembagaan, dan penyediaan teknologi tepat guna, para perempuan Desa Simpang Tiga kini tidak hanya berperan menjaga tradisi olahan rempah Nusantara, tetapi juga tampil sebagai penggerak roda ekonomi keluarga yang berwawasan lingkungan.
